<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1583660945536416199</id><updated>2012-02-16T01:11:02.461-08:00</updated><title type='text'>i'm a WonderWoman</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sparklingpriemy.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1583660945536416199/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sparklingpriemy.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>about everything</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14483894245001046128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_71c8gtQS2jw/SWNvfzUXZQI/AAAAAAAAAA4/l_cKknKgqBI/S220/akhwat+20.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>1</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1583660945536416199.post-7366600679308423903</id><published>2008-12-16T04:19:00.000-08:00</published><updated>2008-12-16T04:21:56.589-08:00</updated><title type='text'>Raden Ajeng Kartini (1879-1904) Pejuang Kemajuan Wanita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_71c8gtQS2jw/SUedR0yuAMI/AAAAAAAAAAM/HraJxp333Ok/s1600-h/kartini.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 99px; height: 114px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_71c8gtQS2jw/SUedR0yuAMI/AAAAAAAAAAM/HraJxp333Ok/s320/kartini.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280362017669906626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Door Duistermis tox Licht, &lt;/i&gt;Habis Gelap Terbitlah Terang, itulah judul    buku dari kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini yang terkenal. Surat-surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di    negeri Belanda itu kemudian menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari    seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah    membudaya pada zamannya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Buku itu menjadi pedorong semangat para wanita Indonesia dalam    memperjuangkan hak-haknya. Perjuangan Kartini tidaklah hanya tertulis di    atas kertas tapi dibuktikan dengan mendirikan sekolah gratis untuk anak    gadis di Jepara dan Rembang.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Upaya dari puteri seorang Bupati Jepara ini telah membuka penglihatan    kaumnya di berbagai daerah lainnya. Sejak itu sekolah-sekolah wanita    lahir dan bertumbuh di berbagai pelosok negeri. Wanita Indonesia pun    telah lahir menjadi manusia seutuhnya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri    ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum    diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan    belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak    mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita,    juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang    pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda,    akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah    kebiasan kurang baik itu.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Pada saat itu, Raden Ajeng Kartini yang lahir di Jepara, Jawa Tengah    pada tanggal 21 April 1879, ini sebenarnya sangat menginginkan bisa    memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, namun sebagaimana kebiasaan    saat itu dia pun tidak diizinkan oleh orang tuanya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Dia hanya sempat memperoleh pendidikan sampai E.L.S. (Europese Lagere    School) atau tingkat sekolah dasar. Setamat E.L.S, Kartini pun dipingit    sebagaimana kebiasaan atau adat-istiadat yang berlaku di tempat    kelahirannya dimana setelah seorang wanita menamatkan sekolah di tingkat    sekolah dasar, gadis tersebut harus menjalani masa pingitan sampai tiba    saatnya untuk menikah.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Merasakan hambatan demikian, Kartini remaja yang banyak bergaul dengan    orang-orang terpelajar serta gemar membaca buku khususnya buku-buku    mengenai kemajuan wanita seperti karya-karya Multatuli "Max Havelaar"    dan karya tokoh-tokoh pejuang wanita di Eropa, mulai menyadari betapa    tertinggalnya wanita sebangsanya bila dibandingkan dengan wanita bangsa    lain terutama wanita Eropa.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Dia merasakan sendiri bagaimana ia hanya diperbolehkan sekolah sampai    tingkat sekolah dasar saja padahal dirinya adalah anak seorang Bupati.    Hatinya merasa sedih melihat kaumnya dari anak keluarga biasa yang tidak    pernah disekolahkan sama sekali.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Sejak saat itu, dia pun berkeinginan dan bertekad untuk memajukan wanita    bangsanya, Indonesia. Dan langkah untuk memajukan itu menurutnya bisa    dicapai melalui pendidikan. Untuk merealisasikan cita-citanya itu, dia    mengawalinya dengan mendirikan sekolah untuk anak gadis di daerah    kelahirannya, Jepara. Di sekolah tersebut diajarkan pelajaran menjahit,    menyulam, memasak, dan sebagainya. Semuanya itu diberikannya tanpa    memungut bayaran alias cuma-cuma.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Bahkan demi cita-cita mulianya itu, dia sendiri berencana mengikuti    Sekolah Guru di Negeri Belanda dengan maksud agar dirinya bisa menjadi    seorang pendidik yang lebih baik. Beasiswa dari Pemerintah Belanda pun    telah berhasil diperolehnya, namun keinginan tersebut kembali tidak    tercapai karena larangan orangtuanya. Guna mencegah kepergiannya    tersebut, orangtuanya pun memaksanya menikah pada saat itu dengan Raden    Adipati Joyodiningrat, seorang Bupati di Rembang.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Berbagai rintangan tidak menyurutkan semangatnya, bahkan pernikahan    sekalipun. Setelah menikah, dia masih mendirikan sekolah di Rembang di    samping sekolah di Jepara yang sudah didirikannya sebelum menikah. Apa    yang dilakukannya dengan sekolah itu kemudian diikuti oleh wanita-wanita    lainnya dengan mendirikan ‘Sekolah Kartini’ di tempat masing-masing    seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon.   &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Sepanjang hidupnya, Kartini sangat senang berteman. Dia mempunyai banyak    teman baik di dalam negeri maupun di Eropa khususnya dari negeri    Belanda, bangsa yang sedang menjajah Indonesia saat itu. Kepada para    sahabatnya, dia sering mencurahkan isi hatinya tentang keinginannya    memajukan wanita negerinya. Kepada teman-temannya yang orang Belanda dia    sering menulis surat yang mengungkapkan cita-citanya tersebut, tentang    adanya persamaan hak kaum wanita dan pria.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Setelah meninggalnya Kartini, surat-surat tersebut kemudian dikumpulkan    dan diterbitkan menjadi sebuah buku yang dalam bahasa Belanda berjudul    Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Apa yang    terdapat dalam buku itu sangat berpengaruh besar dalam mendorong    kemajuan wanita Indonesia karena isi tulisan tersebut telah menjadi    sumber motivasi perjuangan bagi kaum wanita Indonesia di kemudian hari.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Apa yang sudah dilakukan RA Kartini sangatlah besar pengaruhnya kepada    kebangkitan bangsa ini. Mungkin akan lebih besar dan lebih banyak lagi    yang akan dilakukannya seandainya Allah memberikan usia yang panjang    kepadanya. Namun Allah menghendaki lain, ia meninggal dunia di usia    muda, usia 25 tahun, yakni pada tanggal 17 September 1904, ketika    melahirkan putra pertamanya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Mengingat besarnya jasa Kartini pada bangsa ini maka atas nama negara,    pemerintahan Presiden Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia    mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964,    tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan    Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April,    untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal    sebagai Hari Kartini.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Belakangan ini, penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar    agak diperdebatkan. Dengan berbagai argumentasi, masing-masing pihak    memberikan pendapat masing-masing. Masyarakat yang tidak begitu    menyetujui, ada yang hanya tidak merayakan Hari Kartini namun    merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan    wanita Indonesia lainnya. Namun yang lebih ekstrim mengatakan, masih ada    pahlawan wanita lain yang lebih hebat daripada RA Kartini. Menurut    mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang    saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Dan    berbagai alasan lainnya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Sedangkan mereka yang pro malah mengatakan Kartini tidak hanya seorang    tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia    saja melainkan adalah tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan    pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya.    Cara pikirnya sudah dalam skop nasional.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Sekalipun Sumpah Pemuda belum dicetuskan waktu itu, tapi    pikiran-pikirannya tidak terbatas pada daerah kelahiranya atau tanah    Jawa saja. Kartini sudah mencapai kedewasaan berpikir nasional sehingga    nasionalismenya sudah seperti yang dicetuskan oleh Sumpah Pemuda 1928.   &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Terlepas dari pro kontra tersebut, dalam sejarah bangsa ini kita banyak    mengenal nama-nama pahlawan wanita kita seperti Cut Nya’ Dhien, Cut    Mutiah, Nyi. Ageng Serang, Dewi Sartika, Nyi Ahmad Dahlan, Ny. Walandouw    Maramis, Christina Martha Tiahohu, dan lainnya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Mereka berjuang di daerah, pada waktu, dan dengan cara yang berbeda. Ada    yang berjuang di Aceh, Jawa, Maluku, Menado dan lainnya. Ada yang    berjuang pada zaman penjajahan Belanda, pada zaman penjajahan Jepang,    atau setelah kemerdekaan. Ada yang berjuang dengan mengangkat senjata,    ada yang melalui pendidikan, ada yang melalui organisasi maupun cara    lainnya. Mereka semua adalah pejuang-pejuang bangsa, pahlawan-pahlawan    bangsa yang patut kita hormati dan teladani.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Raden Ajeng Kartini sendiri adalah pahlawan yang mengambil tempat    tersendiri di hati kita dengan segala cita-cita, tekad, dan    perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami    perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu.    Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah    kaumnya dari belenggu diskriminasi.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Bagi wanita sendiri, dengan upaya awalnya itu kini kaum wanita di negeri    ini telah menikmati apa yang disebut persamaan hak tersebut. Perjuangan    memang belum berakhir, di era globalisasi ini masih banyak dirasakan    penindasan dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Itu semua adalah sisa-sisa dari kebiasaan lama yang oleh sebagian orang    baik oleh pria yang tidak rela melepaskan sifat otoriternya maupun oleh    sebagian wanita itu sendiri yang belum berani melawan kebiasaan lama.    Namun kesadaran telah lama ditanamkan kartini, sekarang adalah masa    pembinaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1583660945536416199-7366600679308423903?l=sparklingpriemy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sparklingpriemy.blogspot.com/feeds/7366600679308423903/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sparklingpriemy.blogspot.com/2008/12/raden-ajeng-kartini-1879-1904-pejuang.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1583660945536416199/posts/default/7366600679308423903'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1583660945536416199/posts/default/7366600679308423903'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sparklingpriemy.blogspot.com/2008/12/raden-ajeng-kartini-1879-1904-pejuang.html' title='Raden Ajeng Kartini (1879-1904) Pejuang Kemajuan Wanita'/><author><name>about everything</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14483894245001046128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_71c8gtQS2jw/SWNvfzUXZQI/AAAAAAAAAA4/l_cKknKgqBI/S220/akhwat+20.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_71c8gtQS2jw/SUedR0yuAMI/AAAAAAAAAAM/HraJxp333Ok/s72-c/kartini.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
